
Dalam Setahun

Memasuki dua empat, aku hanya ingin istirahat
Tahun ini jujur saja rasanya seperti dalam pusara. Habis jatuh, tertimpa tangga, dipatok ular, tertiban fakta. Sungguh tahun yang penuh dengan naik-turun dan pasang-surut. Aku tak tahu ini hanya berlaku untukku atau semua orang, tapi, banyak hal yang kualami di tahun ini yang bisa didefinisikan sebagai canon event. Di tahun yang sama ketika aku pergi ke luar negeri untuk pertama kali setelah 10 tahun, aku kehilangan kepercayaan dan terpaksa berpisah dari orang-orang penting dalam hidupku. Entahlah, ada yang bilang ini sekadar pembersihan, ada yang bilang ini namanya berusia dua puluh tiga. Singkatnya, banyak hal yang diberikan, tapi juga diambil lagi dari padaku di tahun ini.
Jujur saja, banyak perasaan dan pengalaman yang bahkan sampai hari ini masih dalam tahap kucerna perlahan-lahan. Banyak duka yang masih coba kuproses. Banyak pengalaman yang kujadikan pelajaran. Banyak hal yang baru terbuka mengenai orang-orang sekitarku, banyak hal yang baru aku tahu soal diriku sendiri. Burnout ternyata benar ada, dan aku baru mengalaminya. Banyak yang hal yang menjadi uji kepercayaan dan toleransi di tahun ini. Tapi di balik itu, aku juga tentu menyadari banyaknya bahagia dan bersyukur melihat sukacita yang kudapat tahun ini, baik besar maupun kecil. Mulai dari pengalaman baru ke luar negeri, sampai sukacita sesederhana akhirnya bisa bangun pagi tanpa beban di hati, banyak yang aku terima dan pelajari. Dari sini, aku belajar lebih banyak mengenai sukacita sesaat dan kebahagiaan sejati. Aku juga belajar merelakan dan memaafkan semua yang memutuskan untuk pergi, meninggalkan, dan menjauh. Aku juga belajar bahwa rejeki itu multidimensional; semua kepunyaan dan ketidakpunyaan kita adalah sama-sama rejeki yang harus dipergunakan sebaik-baiknya untuk mencapai kebahagiaan.
Rejeki itu multidimensional; semua kepunyaan dan ketidakpunyaan kita adalah sama-sama rejeki yang harus dipergunakan sebaik-baiknya
Terakhir, banyak hal yang aku coba perjuangkan pelan-pelan juga untuk kedepannya. Toh, pelajaran-pelajaran ini hanya akan berarti jika kubawa dalam memperjuangkan diriku dan pengambilan keputusanku yang lebih baik kedepannya. Aku belajar untuk lebih menghargai kehadiran dan keadaan apapun yang aku punya saat ini. Aku belajar memberi dan menerima dengan lebih baik lagi terhadap orang-orang yang kucintai.
Harapanku untuk tahun baru adalah aku berharap punya kesempatan untuk memperbaiki dan melanjutkan karyaku dimanapun aku ditakdirkan. Aku berharap punya kesempatan untuk berkarya, mencintai, dan memberi dengan lebih baik lagi. Aku berharap, apapun pintu yang sudah ditutup di tahun ini bisa membuka pintu baru yang lebih baik, lebih hakiki, dan membawaku kepada versi yang lebih baik dari diriku sendiri. Dan terakhir, aku berharap ini tidak terjadi kepadamu.


